DESA PADI, PACITAN — Dentang tembaga gamelan yang padu berpadu dengan ketukan kendang berirama lugas kembali terdengar dari halaman rumah warga di Desa Padi, Kecamatan Tulakan. Warga desa dari berbagai kalangan tampak berkumpul, melingkar rapi menyaksikan pagelaran Tayub—sebuah tradisi seni pertunjukan tari rakyat yang hingga kini memegang peranan penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.
Bukan sekadar sarana hiburan malam, seni Tayub di Desa Padi dipandang sebagai bagian dari ritual syukur, penanda rasa kebersamaan, sekaligus simbol keharmonisan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Makna Kebersamaan di Balik Lemparan Sampur
Tradisi Tayub identik dengan interaksi antara penari wanita (waranggono) dan para penonton pria yang diundang untuk menari bersama (ledek atau pembeksa). Prosesi diawali dengan pengalungan atau pengoperan selendang (sampur) oleh waranggono kepada tokoh masyarakat, sesepuh desa, atau warga yang hadir.
Saat sampur dikalungkan, penerima selendang akan melangkah maju ke tengah area pertunjukan untuk menari mengikuti irama gending Jawa yang dibawakan secara apik oleh para wiyaga (pengrawit).
Kepala Desa Padi, Agung Kushendarto, menjelaskan bahwa pagelaran Tayub di desanya lazim digelar pada momentum tertentu, seperti acara bersih desa (sedekah bumi), hajatan pernikahan, atau syukuran panen.
“Seni Tayub di Desa Padi ini nilai utamanya adalah guyub rukun. Saat menari bersama di bawah naungan gamelan yang sama, tidak ada perbedaan status sosial. Semua warga, dari pejabat desa sampai petani, menari seirama. Ini bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan atas ketenteraman dan hasil bumi yang kita nikmati,” ungkap Agung di sela-sela gelaran acara, Senin (27/7).
Menjaga Etika dan Kelestarian Tradisi
Di tengah dinamika zaman, warga Desa Padi terus berupaya merawat kesenian Tayub dengan mempertahankan nilai-nilai luhur dan etika dalam pertunjukannya. Pengurus karang taruna bersama para sesepuh desa secara konsisten menjaga agar pelaksanaan Tayub tetap mengedepankan kesopanan, kerukunan, serta nilai estetika seni Jawa yang adiluhung.
Beberapa daya tarik kebudayaan Tayub yang terus dipertahankan di Desa Padi meliputi:
- Seni Vokal dan Bahasa Luhur: Lantunan sinden/waranggono menyajikan tembang-tembang Jawa klasik yang sarat akan pesan moral, nasihat kehidupan, dan doa keselamatan.
- Interaksi Harmonis: Pengalungan sampur menjadi lambang penghormatan dan ajakan untuk menjalin tali silaturahmi secara terbuka.
- Pelestarian Seni Karawitan: Menjadi wadah regenerasi bagi penabuh gamelan lokal di Kecamatan Tulakan untuk terus mengasah kemahiran memukul instrumen tradisional.
Simbol Identitas Kebudayaan Desa
Bagi masyarakat Desa Padi, pertunjukan Tayub yang berlangsung hingga larut malam bukan hanya hiburan rakyat, melainkan ruang perekat ikatan kekeluargaan. Tawa, tepuk tangan, dan irama langkah kaki para penari yang menyatu dengan dentang gamelan menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya Nusantara tetap hidup dan berdenyut kuat di pelosok Pacitan.